tentang lingkungan di bumi tercinta ini,yang rusak oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab,,
Kamis, 18 November 2010
kerusakan lingkungan
KERUSAKAN LINGKUNGAN
| | “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menjadikan mereka merasakan …. |
Dalam konferensi Paris 2 yang diselenggarakan awal tahun 2007 lebih dari 500 ilmuwan dari seluruh dunia bertemu dan membuat seruan mendesak untuk kembali ke lingkungan yang bersih. Konferensi tersebut mengeluarkan tiga hasil:
1. Kerusakan dan pencemaran lingkungan telah mencakupi darat, laut, bahkan manusia, tumbuhan dan hewan.
2. Manusia bertanggung jawab atas kerusakan dan pencemaran ini karena polutan berbahaya yang diproduksinya.
3. Masih ada kemungkinan untuk kembali ke ambang batas normal karbon dalam atmosfer yaitu dengan mengambil tindakan yang tepat dan berhenti mencemari atmosfer.
Sungguh luar biasa, ternyata ketiga hasil konferensi ini dinyatakan secara ringkas dalam Al-Quran:
(ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ) [الروم: 41].
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menjadikan mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Al-Rum 41
Tidakkah ayat ini telah menunjukkan bahwa Al-Quran telah lebih dahulu – ribuan tahun sebelum para penggiat lingkungan hidup menyerukan himbauannya -- membimbing kita untuk melestarikan lingkungan dan bukan untuk membuat kerusakan di muka bumi dan mencemarinya setelah Allah menyediakannya bagi kita sebagai tempat hidup?!
letusan merapi membuat warga lereng merapi mengungsi
Letusan Merapi Sulit Diprediksi Akibat Habibat Lingkungan Rusak
Selasa, 02 November 2010 | 07:57 WIB
TEMPO Interaktif, Semarang - Guru Besar Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang Profesor Sudharto P Hadi mengatakan sulitnya memprediksi letusan Gunung Merapi tahun ini disebabkan habibat di gunung teraktif di dunia itu sudah mengalami kerusakan. Sudharto mengatakan sebelumnya jika Gunung Merapi hendak meletus maka ada tanda-tanda alam yang bisa diamati. Misalnya banyak binatang liar yang turun dari gunung, mulai dari harimau, monyet, burung, dan lain-lain. "Orang Jawa biasa menyebut itu sebagai ilmu titen atau untuk memperkirakan kepastian fenomena alam," ujar Sudharto kepada Tempo, Selasa (2/11).
Sudharto yang beberapa waktu lalu terpilih sebagai Rektor Universitas Diponegoro Semarang menambahkan, ilmu titen yang dulu digunakan orang sekitar Gunung Merapi untuk memprediksi fenomena alam kini sudah jarang sekali.
Menurut Sudharto, bukan karena ilmu titen-nya yang sudah tidak relevan, tapi karena berkurangnya populasi binatang-binatang di Merapi. Penyebabnya, kata Sudharto, habibat di gunung yang terletak di Jawa Tengah dan Yogyakarta itu sudah rusak. Selain itu, aksi penambangan baik legal maupun ilegal juga sudah parah hingga merambah Taman Nasional Merapi.
Sudharto mendesak di masa mendatang kerusakan habitat di Gunung Merapi harus diperbaiki. Harapannya, ilmu titen bagi orang Jawa masih bisa dijadikan sebagai patokan untuk melihat fenomena alam. Selain itu, ilmu titen itu juga bisa untuk mensinergikan ilmu yang rasional. Sebab, kata Sudharto, kadangkala warga di lereng Merapi lebih percaya pada ilmu titen dan tidak mempercayai ilmu yang ilmiah atau rasional.
Sejak Selasa pekan lalu, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas atau biasa disebut wedhus gembel. Hingga kini, gunung tersebut masih sering mengeluarkan lava panas dan debu. Akibatnya, ribuan penduduk di lereng Merapi diungsikan ke tempat pengungsian.
Langganan:
Postingan (Atom)
